Riuhnya suara pekikan menyambut kedatangan saya terang itu. Sang kondektur dari segala arah mulai beraksi, menjebak para penjejak yang kelimpungan mencari-cari. Ada yang terjerat, ada yang berhasil lewat. Ada sepasang kaki yang bergairah melangkah, pun ada pula yang menunda untuk sekedar pindah. Ya, inilah Terminal Leuwi Panjang, tempat dimana debar tak sabar bertemu dengan yang tercinta. Tempat dimana sesak di dada tak kuasa berpisah dengan yang terkasih. “Tet!!!” bunyi klakson dari salah satu bus jurusan Bandung-Jakarta mengaburkan pandangan saya. Ternyata ada tradisiunik ketika bongkahan mesin itu kembali ke sini. Para supir memberi tanda pada bus lainnya untuk memulai perjalanan selanjutnya. Para penjejak pun berhamburan hendak keluar. Menuruni tangga tanpa tergesa-gesa, akan beralih tempat, saya rasa. Benar ternyata, disini tidak ada jiwa yang serakah, semua sudah paham betul di bagian mana rezekinya berada. Sang surya mulai menunjukkan eksistensinya. Berdiri sejajar, te...
Saya suka badminton dari umur tiga tahun. Keluarga saya emang pecinta badminton, dan saya jatuh cinta bukan karena keluarga saya yang nyuruh, tapi emang karena saya 'suka'. Jujur saya belajar badminton sendiri, gapernah diajarin siapapun, cuma modal lihat orang lain, saya udah bisa belajar dari situ. Saya juga kurang beruntung dilahirin sebagai wanita di keluarga saya. Soalnya cewek yang bisa badminton itu emang jadi kaum minor di keluarga saya. Makanya kenapa saya cuma bisa belajar dari 'melihat orang lain'. Beda sama saudara cowok saya. Kebetulan kita juga seumuran. Tapi dia lebih beruntung, karena kaum adam disini begitu dipuja haha. Dia juga akhirnya dimasukin ke klub badminton gitu, sementara saya, oke saya belajar sendirian aja. Tapi tau ga? Saya gapernah mau kalah. Saya gasuka direndahin gitu aja, dianggap kaum minor yang gabisa ngalahin si mayor. Hm tulisan macam apa ini haha. Tapi bener lho, saya selalu menang kalo lawan sodara cowok saya itu, walaupun dia ...